Hama Tikus pada Tanaman Padi dan Teknik Ampuh Pengendaliannya

Hama Tikus pada Tanaman Padi

Tikus (Rattus argentiventer) adalah hama utama dalam budidaya tanaman padi. Hama ini sulit dikendalikan karena memiliki kemampuan untuk belajar dari tindakan-tindakan yang pernah dilakukannya. Kerusakan yang ditimbulkan serangan hama ini bisa mencapai 90%. Namun, rata-rata kehilangan gabah yang terjadi di setiap musim tanam adalah sekitar 15 sd 20%.

SIKLUS HIDUP

Tikus dikenal memiliki kemampuan perkembangbiakan yang cepat. Satu siklus perkembangbiakan hanya membutuhkan waktu 2-3 bulan. Masa bunting betina juga sangat singkat, yaitu sekitar 21 hari. Dalam sekali siklus reproduksi, induk tikus dapat melahirkan 6 sd 10 anak tikus (cindil).

SIKLUS HIDUP TIKUS Sumber : kabartani.com

Anak tikus yang baru dilahirkan berwarna pink dan tidak berambut. Anak-anak tikus disusui oleh induknya selama 21 hari dan setelah disapih, ia akan tumbuh menjadi tikus dewasa dalam waktu 5 sd 6 minggu.  Adapun 2 hari setelah melahirkan, betina tikus dewasa sudah kembali birahi dan siap untuk dibuahi lagi. Sementara jantannya memiliki masa birahi yang tidak pernah putus.

PENGENDALIAN TIKUS

Pengendalian tikus dapat dilakukan secara efektif dengan mengenali siklus hidup, habitat, dan kebiasaannya.

Habitat tikus sendiri tidak terbatas, hanya saja pada tikus sawah, mereka biasanya membuat rumah di dalam tanah di sekitar pematang, galangan, atau tanggul pada saat tanaman memasuki masa tanam. Mereka datang dari area daratan ke area persawahan secara bergerombol untuk terlebih dahulu melakukan perkembangbiakan.

Tikus menyerang bagian akar dan batang tanaman padi dengan cara mengeratnya hingga habis, sehingga tanaman bisa rusak dan mati. Sebagai binatang pengerat, keratan yang dilakukan tikus sebetulnya tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan makanan. 1 dari 5 batang padi yang dikerat adalah untuk makan, sementara 4 lainnya dikerat untuk mengasah gigi-giginya agar tidak bertambah panjang dan menyulitkannya untuk makan. Untuk diketahui, permanjangan gigi tikus adalah 0,4 mm per harinya.

Secara kultur teknis, pengendalian tikus dapat dilakukan dengan pola tanam serempak. Dalam satu hamparan, selisih waktu panen tidak boleh lebih dari 2 minggu. Selain itu, sanitasi habitat tikus dan mengecilkan ukuran pematang sawah hingga lebar maks. 30 cm juga diperlukan agar ia tidak menjadi sarang bagi perkembangbiakan induk tikus.

Selain tindakan-tindakan tersebut, tikus juga dapat dikendalikan secara terpadu melalui beberapa cara, yaitu:

1. Gropyokan

Gropyokan dapat dilakukan dengan melibatkan semua petani yang ada dengan cara penggalian sarang, penjeratan, pemukulan, pengoboran malam, atau perburuan dengan anjing pada saat sebelum tikus mulai melakukan perkembangbiakan.

Gropyokan
Sumber : kabartani.com

2. Fumigasi

Fumigasi atau pengemposan dilakukan dengan mengasapi celah sarang tikus menggunakan jerami yang dicampur belarang dioksida. Setelah pengemposan, lubang tikus ditutup agar tikus tidak lari.

3. Trap Barrier System (TBS)

Trap Barrier System adalah pengendalian dengan penggunaan perangkap tanaman padi. TBS dibuat dengan menanam padi 3 minggu lebih awal pada lahan di dekat tanggul atau pematang. Padi yang ditanam sebagai perangkap ini cukup pada luasan 25x25 m. Luasan tanaman perangkap tersebut mengendalikan 15 hektar tanaman padi.

Trap Barrier System (TBS) Sumber : unsurtani.com

Memasuki fase generatif, area pertanaman TBS dipasangi pagar plastik setinggi 80 cm. Ujung bawah pagar plastik dipendam dalam tanah dan dikelilingi oleh air. Di setiap sisi pagar plastik dilubangi untuk meletakan perangkap yang terbuat dari ram kawat berukuran 20 x 20 x 40 cm.

Selama fase generatif, setiap pagi ram kawat dicek kemudian tikus yang terperangkap dapat langsung dimusnahkan.

4. Linear Trap Barrier System (LTBS)

Linier Trap Barrier System memiliki sistem kerja yang sama dengan TBS. Hanya saja pada LTBS, perangkap dipasang secara linier di seluruh area penanaman padi.

5. Penggunaan Musuh Alami

Musuh alami tikus antara lain burung hantu, burung elang, anjing, dan ular sawah. Binatang-binatang ini sebaiknya tidak diganggu atau justru harus dilestarikan agar secara alami populasi tikus bisa berkurang. Misalnya dengan pembuatan rubuha atau rumah burung hantu.

6. Pengendalian Kimia

Pengendalian tikus secara kimia dilakukan jika cara lainnya sudah tidak memungkinkan untuk dilakukan. Penggunaan rodentisida dengan cara meletakannya di habitat tikus seperti di dekat lubang sarang cukup efektif mengendalikan populasi tikus dewasa.

Sumber Pustaka


  1. Pemerintah Kabupaten Buleleng. Teknik Pengendalian Hama Tikus Sawah. Link : https://bulelengkab.go.id/detail/artikel/teknik-pengendalian-hama-tikus-sawah-48. Diakses 5 Mei 2019.
  2. Unsur Tani. Sistem Bubu Perangkap Tikus TBS dan LTBS Ampuh Atasi Hama Tikus. Link : https://unsurtani.com/2017/12/sistem-bubu-perangkap-tikus-tbs-dan-ltbs-ampuh-atasi-hama-tikus. Diakses 5 Mei 2019.
  3. Kabar Tani. Fumigasi Efektif Membunuh Tikus Langsung dalam Lubang Sarang. Link : https://kabartani.com/fumigasi-efektif-membunuh-tikus-sawah-langsung-dalam-lubang-sarang.html. Diakses 5 Mei 2019.


Unduh materi ini dalam bentuk leaflet dan booklet pada link di bawah ini!

Leaflet Booklet

0 Response to "Hama Tikus pada Tanaman Padi dan Teknik Ampuh Pengendaliannya"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel